SELAMAT DATANG DI BLOG ACHOUNK EL-ANSHORY

Jumat, 27 Agustus 2010

Fungsi Akal Yg Menjadikan Derajat Manusia Seperti Malaikat, Seperti Iblis Ataukah Seperti Binatang.

Assalamu'alaykum wr.wb

hmm..menarik kalau merenungi dan bicara masalah akal.
dengan akal manusia bisa menjadi baik, benar dan cerdas bila potensi akal
disandarkan or ditundukkan kepada hukum Allah dan sunnah Rasul. tapi..dengan
akal manusiapun bisa menjadi, jahat, salah, sombong, bodoh dan dungu, bila akal
dijadikan sandaran penuh akan semua masalah dalam hidupnya.

"Telah kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk)" (TQS.
Al-Balad [90]:10)

fungsi akal hanya digunakan untuk menimbang perbuatan baik dan buruk menurut
ukuran akal yg menggunakannya, jika perbuatan baik dan buruk disandarkan menurut
ukuran akalnya, jelas semua bersifat relatif dan tidak mutlak. maka disinilah
terjadi pertentangan antara akal manusia yg satu dengan manusia yg lain.

hmm..harusnya akal digunakan untuk mencari kebenaran yg sudah diberitakan
dalam Firman Allah dan RasulNya dan bukan mencari pertentangan atas semua berita
yg sudah di firmankanNya. andai seseorang belum menemukan makna berita yg
dituliskan dalam Al-qur'an, layaknya seorang hamba yg belum menemukan,
seharusnya diam yaitu kami dengar dan kami taat.

hmm..aku teringat kata2 seorang "cendikiawan muslim" yg mengatakan :

"Iblis kelak akan masuk surga, bahkan di tempat yang tertinggi karena dia
tidak mau sujud kecuali kepada Allah saja, dan inilah tauhid yang murni."

hmm..dia mengclaim iblis akan masuk surga berdasarkan akalnya, padahal

"Kami berfirman kepada para malaikat, sujudlah kamu kepada adam, maka sujudlah
mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia teramsuk golongan
orang2 yg kafir" (Al-Baqarah : 34)

hmm..Allah telah mengclaim iblis termasuk orang2 yg kafir.dan orang kafir
tempatnya adalah neraka yg menyala2.

"sesungguhnya orang2 yg kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya,
maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi,
walaupun dia menebus diri dengan emas yg sebanyak itu. bagi mereka itulah siksa
yg pedih dan sekali-kali tidak memperoleh penolong" (Ali-Imran : 91)

hmm..akal cendekiawan yg mengatakan iblis menempati syurga tertinggi karena
ketauhidan murninya sungguh bertentangan dengan firman Allah. karena Tauhid
bukan sekedar bentuk penyembahan, tapi dibarengi dengan bentuk ketaatan,
sedangkan iblis tidak taat pada Allah.

hmm..aku sering berfikir kenapa Allah or Rasul berkata "derajat manusia yg
bertaqwa akan melebihi derajat seorang malaikat, tapi..derajat manusia yg
menuruti hawa nafsunya, dia akan lebih hina dari binatang melata"

bagiku perkataan Allah or Rasul tidak akan pernah salah, dan aku selalu
menggunakan akalku untuk membenarkan perkataan Allah dan mencari jawabannya,
kenapa Allah bisa berkata spt itu?? dan perkataan itu pasti benar.

yup!!perkataan itu benar. Iblis hanya mau menyembah kepada Allah, tapi Iblis
tidak taat kepada Allah (karena menolak perintah Allah untuk menyembah adam)
sedangkan Malaikat hanya mau menyembah kepada Allah dan Malaikatpun hanya taat
kepada Allah. jadi yg murni bentuk ketauhidannya adalah Malaikat dan bukan
Iblis.

hmm..aku mikir lagi, jelas aja malaikat bisa memurnikan ketauhidannya, karena
Malaikat tidak dilengkapi Hawa nafsu oleh Allah....tapi manusia?? dilengkapi
oleh hawa nafsu dan akal yg tidak dimiliki oleh Malaikat.

hmm..disinilah perbedaan itu. karena hawa nafsu sifatnya selalu mengajak
kepada keinginan diri untuk memenuhi kebutuhannya, sedangkan akal diberikan
Allah adalah sebagai pelengkap untuk menimbang2 apakah keinginannya itu perlu
dituruti or tidak dituruti (menimbang baik dan buruk yg bersifat relatif )

Yup!! pada saat manusia menuruti hawa nafsunya dan menyandarkan kepada akalnya
yg bersifat relatif, maka disinilah manusia sering jatuh pada kesalahan. dan
andai manusia sudah hilang akalnya dan hanya tersisa hawa nafsunya, disinilah
hinanya manusia melebihi binatang melata.

Dan apabila manusia mempunyai kekuatan akal tanpa dilandasi dengan keimanan,
disinilah sifat manusia yg spt iblis (sombong). tapi..andai manusia menahan hawa
nafsunya dan menundukkan akalnya pada semua firman Allah dan RasulNya, maka
disinilah ketinggian derajat manusia melebihi malaikat. karena mampu menahan
hawa nafsu (yg tidak dimiliki oleh malaikat) dan menundukkan akalnya akan semua
firman Allah dan RasulNya. dan kuncinya adalah ilmu yg benar dan didasari oleh
kejujuran, keikhlasan dan kepasrahan dengan penuh ketundukkan (kami dengar dan
kami taat)

Hmm..aku juga sering berpikir, kenapa guruku selalu bilang padaku untuk
memilih bahan bacaan dan memilih semua yg ingin aku pikirkan (tidak semua harus
dibaca dan tidak semua harus dipikirkan)kata beliau, "bisa pecah lama2 itu
kepala kamu.." aku suka mikir..kenapa beliau berkata spt itu?? Ternyata terbukti
lagi ditempat kami bekerja seorang peneliti yg menurutku sudah maksimal
kemampuan otaknya untuk menampung semua, ya..akhirnya hilang semua ingatan yg
ada dikepalanya, hingga saat inipun..jangankan untuk memikirkan penelitiannya??
Mengingat abjad dan huruf aja dia sudah tidak mampu. Dan aku juga suka
memperhatikan orang2 atheis yg tidak percaya akan Tuhan, dalam hidupnya tidak
pernah ada ketenangan dan selalu aja sikap frustasi dan menyalahkan kepada
orang2 yg mengakui akan Tuhan. Dan sifat penghambaannya kepada sesuatu selain
Tuhan (orang, harta, dlsbnya) itu lebih condong sekali dan terlihat jelas
sekali, kalau dia bukan orang yg bahagia.

Yaa..ini hanya hasil pengamatan dan renungkanku aja selama ini, ternyata
banyak sekali hikmah dan pelajaran yg bisa kita ambil andai manusia mau
menundukan akalnya kepada semua yg telah ditentukan oleh Allah.
dan ternyata akal "cendekiawan muslim" tidak mampu membedakan mana tauhid
murni dan setengahnya aja :) dan sialnya lagi, orang jelas salah, masih saja ada
yg senang mengikuti kesalahannya. Hehehe kebiasaan jelek orang disini adalah,
senang mengikuti yg salah (ikutan ngetop walau salah), iri dengan orang yg
berbuat salah (karena patokannya adalah dengan pembuat salah yg lebih besar) dan
bangga dengan kesalahannya, (karena merasa sudah mampu mempengaruhi orang dan
menjadi pengikut kesalahannya dan akhirnya seolah2 menjadi benar, karena
pengikutnya yg banyak -:)

Wallahu a’lam bisowab

Tidak ada komentar: